Yah itulah judul yang tepat untuk tuisan kali ini.
Tgl 15 dan 16 tidurku benar-benar tidak nyenyak, ada sesuatu hal yang membuatku sangat ganjal. seringkali ditengah mata yang sangat mengantuk berat kala itu ada yang membangunkanku, dan mimpiku terbayang oleh wajah bapak. saat itu aku tidur di kamar dengan ukuran 3×8 m di kos sendirian, teman sekamarku saat itu tidak tidur di kamar seperti biasanya. Suasana saat itu sunyi sepi karena sebagian besar masih berada di perjalanan dari kampung halamannya menuju kembali ke tempat perantauanya di kota bintaro tangerang selatan demi menimba ilmu di kampus STAN untuk menghabiskan waktu liburan 2 minggu.
Begitu juga aku yang telah menghabiskan waktu 2 minggu liburan UAS 1 di rumah bersama Bapak, ibu, dan adik sementara Diana sedang menghadapi UTS dan tentu saja ia lebih memilih menetap di kosnya di PPM rawamangun. Tapi hari jumat siang tgl 15 aku sudah kembali ke kos dikarenakan tuntutan mengajar privat. tapi sesampai di kos, salah satu teman mengabari hari senin semua yang lulus dan naik di semester ke 2 harus membawa ijazah sebagai syarat kenaikan semester 2. hari minggu siang pun aku pulang ke rumah yang membutuhkan waktu tempuh 2 jam dari kampus stan untuk mengambil dokumen penting itu. sesampai di rumah aku membantu saudara kembarku, Diana mencuci baju orang tua kami dan adik kami. Setiap aku bertemu dengan Diana apapun masalahku pada saat itu juga aku tuangkan padanya apapun itu duka maupun suka. sampai-sampai kami lupa kalau kami sedang mencuci pakaian yang sangat banyak karena terlalu asyik mengobrol. begitulah indahnya menjadi anak kembar, ketika kami dipertemukan maka celoteh kami tak ada henti-hentinya membicarakan persoalan kampus, hubungan teman, bahkan dalil-dalil hadist dan alquran pun terkadang mencuat dalam pembicaraan kami.
pukul setengah tiga barulah bapak pulang kerja. Sifatnya yang begitu menyayangi anak-anaknya, istrinya dan saudara-saudaranya seringkali mengabaikan rasa lelahnya, rasa sakitnya.
Baru saja beliau sampai, langsung mencopot sepatunya, jaketnya, dan baju kerjanya. beliau langsung mendatangi kami dengan senyuman kebahagiaanya karena putri-putrinya yang beranjak dewasa ini bisa berkumpul di depan matanya lagi. Bapak sangat mengkhawatirkan kondisiku yang baru sampai rumah masih kelelahan tapi langsung mencuci terlebih cucian itu menumpuk banyak sekali, beliau merasa iba dan langsung menggulung celananya melepas semua pakaian atasnya dan langsung membantuku membilas pakaian. Padahal sudah kularang “gak usah pak” awalnya dengan nada pelan. tapi bapak menghiraukannya. “gak usah pak, biar aku aja sm diana yang nyuci”. yah begitu kuatnya pendirian bapak tetap saja membantu kami membilas pakaian. padahal aku tahu bapak justru sebenarnya lebih merasa lelah daripada kami. Saat itu awan benar-benar sangat gelap, sementara sore itu juga aku harus kembali lagi ke kos karena esok pagi ada apel di kampus pukul 6 pagi. aku pun bergegas mencari ijazah di tas khusus berisi dokumen-dokumen penting. Kemudian kala itu bapak menawarkan diri untuk mengantar aku sampai kos yang cukup jauh dari rumah dengan berawan gelap. Secara rasional pun semua orang tidak mungkin akan naik motor bolak-balik dari jakarta timur – bintaro – kembali ke Jakarta timur sementara awan mendung sudah mengawali tanda akan datangnya hujan yang deras.A palagi keringat lelahnya masih bercucuran tetap saja menghiraukan dirinya. Aku mengerti prinsip hidup bapak adalah mengutamakan anak-anaknya, istrinya, mertuanya, saudara-saudaranya dan teman-temannya. dirinya dinomor akhirkan. Aku dan ibuku bahkan seringkali jengkel pada bapak karena prinsip hidupnya yang terlalu mengutamakan orang lain, dirinya tidak dipikirkan atau dinomor akhirkan. Entah darimana prinsip itu diambil. Dalam 10 prinsip ekonomi pun aku tidak menemukan prinsip hidup bapak yang bisa dibilang cukup “sosialis” ini. Berbeda dengan orang pada umumnya yang sangat “individualis”.
Kebiasaan ibu marah-marah dengan nada yang agak tinggi itu pun muncul apalagi ibu juga masih lelah baru pulang kerja “pak cepet anterin Diani ke pasar rebo, nanti keburu ujan, itu udah mendung banget”. Dengan sabar bapak menjawab tanpa emosi samasekali “iya nanti dulu ya, saya kan mau sholat ashar dulu”. “ohyaudah pak gapapa sholat dulu aja” balasku. Setelah sholat bapak sudah bersiap-siap, tapi tiba-tiba beliau berkata “ohiya saya baru inget belum makan dari pagi” sambil tersenyum-senyum menampakan giginya dan mengelus perutnya. Kami pun serempak tertawa melihat perilaku bapak yang meledek kami seperti anak kecil.
“Ya ampun pak dari pagi kok belum makan? yaudah pa makan dulu aja”.
“lah kamu ngga makan dulu diani?” Tanya bapak.
“ngga, aku masih kenyang pak”. Jawabku
“ohyaudah, saya makan dulu ya” jawabnya dengan senyumanya yang begitu khas dan penuh rasa keikhlasan. walau dalam keadaan lelah dan kelaparan pun bapak tetap bisa tersenyum indah, entah mengapa aku sulit menirunya. Padahal seharusnya sifat fenotifnya ini juga menurun padaku. dan yang tidak pernah aku lupakan dari Bapak, setiap berbicara menggunakan bahasa yang baku, sekalipun berbicara dengan anak-anaknya dan istrinya, bahkan pada adik kami yang masih duduk di bangku kelas 3 SD dan anak-anak kecil lainnya. beliau memperlakukan tindakan yang sama pada semua orang yaitu kata-kata yang lembut,sopan, tidak ada unsur menyombongkan diri dan satu hal yang membuatku iri pada bapak adalah senyuman khasnya yang menambah citra orang baik lagi penolong bagi keluarga,teman dan tetangga.
Disaat beliau sedang makan, aku melakukan kebiasaanku ketika ada bapak yaitu menceritakan hal-hal yang baru yang aku dapatkan di hari itu, tak lupa aku bercrita hasil indeks prestasi semester pertamaku di STAN, bapak senang sekali mendengarnya sampai beliau mngucapkan “luar biasa!” sambil menunjukan jempol dan senyuman khasnya. Diana pun tidak mau kalah menceritakan persoalanya di kampus. Seringkali aku,Diana, dan Muti adik kecilku berebutan berbicara dengan Bapak karena menurut kami bapak lah pendengar yang paling setia. Setiap kami menceritakan suatu hal Bapak mendengarkan dengan seksama dan lagi-lagi dibumbuhi dengan canda dan tawa. Kami senang melihat bapak dan ibu ketika kami bercerita tentang kampus kami dan hal-hal lainnya sampai mereka bisa tertawa dan tersenyum. Seringkali aku berpikir betapa bahagianya aku bisa bercanda ria bersama bapak, ibu, Diana, dan adik terus-terusan seperti ini.
Setelah sampai di pasar rebo, bis merah Agramas menuju Veteran sudah menunggu di halte. Aku pun bergegas turun dari motor dan menyalami tangan bapak. Tangannya begitu hangat seperti orang sakit. Ingin aku tanyakan “Bapak sakit?”. Tapi aku yakin bapak pasti akan menjawab “enggak, saya ngga papa”.
Aku hanya berkata “brangkat ya pak Assalamuallaikum”.
“waalaikumsalam. iya, hati-hati ya di jalan”
Sampai dikos aku di sms ibu, “diani,udah sampai kos belum?”, dan bapak ternyata juga sms ”Diani, Diana udah naik angkot menuju Rawamangun, kamu udah sampai kos belum?. Jahat sekali aku bermksud hemat sms, hanya membalas sms dari ibuku “iya aku aku udah sampai dari jam 5 sore ma”, pikirku bapak nantinya juga akan diberi tahu oleh ibu.
Malam senin itu aku tidak bisa tidur pulas lagi padahal kos sudah ramai. Hampir setiap jam seperti ada yang membangunkan ku. sampai pukul 3 pagi baru aku bisa tidur. Aneh, seperti ada yang janggal pikirku. Seperti biasanya pagi-pagi aku mengaji bersama teman-teman kos berangkat ke masjid mengaji alquran beserta maknanya dan bacaanya.
Sore pukul 4 aku berangkat mengaji lagi, seperti biasanya setiap sore kami siswa-siwi ppm bim mengaji hadist. Handphone pun seringkali aku tinggal di kamar kos. Pulang magribh baru aku sampai kos. Sesampai di kos aku berbuka puasa. Sambil bercanda tawa dengan teman-teman kos lainnnya aku makan sesuap demi sesuap nasi. Barulah beberapa sendok nasi masuk ke dalam lambungku ada telephone dari Diana. Aku pikir Diana akan curhat seperti bisanya. Tapi kali ini berbeda,,
Awalnya aku bertanya “hallo Diana?” kali ini sangat mengherankan “suaranya menghilang tapi seperti terdengar orang menahan tangisan. “hallo Diana kenapa?, masih saja telepon itu hening. “Diana kenapa? Diana?”.
Aku jadi merasa khaawatir dan takut jika ternyata kabar yang disampaikan Diana adalah kabar buruk. “Diani, kamu belum baca sms aku?” barulah terdengar suara serak.
“Sms apa Diana? Aku tadi habis ngaji, sekarang lagi buka puasa. Knp Diana?” ,
Diana menangis pelan “’Bapak Diani,,, Bapak masuk rumah sakit”.
“sakit apa Diana?” tiba-tiba bayangan wajah bapak berkelebat di depan mataku, air mataku mulai menetes.
“sakit jantung”.. Diana menjawabnya sambil menangis.
“Inalillahi,,,, kok bisa Diana??? Bapak kan ngga pernah sakit jantung?” saat itu aku menangis sejadi-jadinya. Ternyata benar kabar yang dibawa Diana adalah kabar buruk.
“iya. Tadi siang mama nelpon aku, tapi aku lagi kuliah, sorenya aku telpon mama. Kata mama sekarang bapak lagi di rawat di IGD.”
Seketika itu mendengar kata JANTUNG dan IGD sekujur tubuhku sangat lemas. Posisiku saat itu sedang berada di tangga kamar. Semua teman-teman kos ku menghampiriku menanyakan kabar buruk apa yang terjadi. Aku tidak bisa berkata apa-apa karena sekujur tubuhku sangat lemas. Hanya aku tunjukan sms dari Diana pada mereka “Diani, Bapak masuk rumah sakit, sekarang di rawat di ruang IGD”.
Saat itu sedang gerimis, makanan yang belum habis aku buang karena sudah tidak ada lagi nafsu makan. Karena sudah adzan isya, kami satu kos bergegas ke masjid sekaligus mendengar nasihat agama. Aku pun hendak membeli pulsa. Aku menangis terus-menerus sepanjang jalan. Bahkan saat sholat pun aku menangis sampai mataku memerah. Aku langsung menghubungi ibu
“ma., katanya bapak masuk rumah sakit ya? Gimana keadaanya?” aku bertanya sambil menangis
“Iya Diani. Bapak sekarang udah sadar” mama berusaha menenangkan. Tapi terdengar suaranya yang terbelenggu dengan tangisan.
“beneran ma?”
“iya, tadi ngobrol sama aku”.
Mendengar bapak bisa mengobrol dengan mama, hatiku jadi sedikit lebih tenang.
“bapak dirawat dimana ma? Besok insya Allah aku dateng ke rumah sakit, nanti izin sm dosen”
“Bapaknya di rawat di IGD, Rumah sakit Polri kramatjati. Kamu gapapa izin kuliah?
“gapapa ma, lagian ini masih minggu pertama kuliah “
“oh yaudah,,kamu berangkat kesinya pagi-pagi?”
“iya ma”
“yaudah aku pulang ke kos dulu ya ma, ini habis sholat isya di masjid”.
“ohyaudah kamu istirahat ya diani”
“iya ma, Assalamuallaikum”
“Waalaikumsalam”
Saat itu aku langsung pulang ke kos. Sebetulnya salah satu teman di tempat ngaji ada yang menawarkan diri untuk mengantar aku sampai veteran, tempat agramas melaju menuju ke pasar rebo. Tapi aku merasa tidak enak jika merepotkannnya, terlebih saat itu sedang hujan, aku pun menolaknya.
Sesampai di kos aku langsung menelpon Diana mengabarkan bapak sudah sadar dan besok aku izin kuliah. Aku memberi pesan pada Diana untuk shalat hajat, berdoa untuk menyembuhkan org yang sakit dan membaca alquran serta shalat malam. Diana pun mengiyakannya. Setelah mengambil air wudhu barulah hatiku merasa yakin Allah pasti menyembuhkan sakitnya bapak, apalagi bapak tidak pernah sakit.
Akan tetapi, selama shalat hajat air mataku tidak bisa membohongi hatiku, aku shalat sambil menangis terlebih saat berdoa. Aku berdoa memohon pada Allah agar menyembuhkan sakitnya bapak, agar aku sempat bertemu bapak lagi, agar aku bisa berbincang-bincang dan bercanda tawa seperti hari minggu sore kemarin. Begitu juga saat membaca alquran, air mataku bercucuran tak habis-habis. Aku membayangkan alat-alat medis yang digunakan bapak terbayang sangat mengerikan. Ada tabung oksigen, ada layar pendeteksi denyut jantung, dll. Baru kali ini aku tidak bisa menghentikan tangisanku. Ingin rasanya cepat-cepat beranjak ke rumah sakit menjenguk bapak. Tapi badanku terasa sangat lemas. Semua tenaga seperti hampir terserap habis oleh air mataku yang terus menerus bercucuran. Akhirnya aku membaringkan badanku diatas kasur. Lagi-lagi sekelebat wajah bapak muncul di depan angan-anganku. Perasaan cemas, takut, dan khawatir teraduk menjadi satu. Aku juga memikirkan ibu ku yang menemani bapak hanya dengan seorang tetangga yang baik hati sekali mau menemani ibuku. Sedangkan anak-anaknya masih bernjak di tempat kosnya. Aku dan Diana sama-sama sangat lemas badannya. Aku tidak mengerti harus apa, pikiranku seperti menghilang terbawa angan-angan yang mengerikan. Aku terus-menerus menghadap ke langit berdoa kepada Allah Zat yang menghendaki datangnya sakit dan sembuhnya penyakit. Aku percaya sekali doanya org iman itu mustajab, insya Allah terkabul.
Ketika hendak tidur seraya dalam hati berkata “Bapak pasti sembuh, bapak kan orang nya kuat dan lebih sehat daripada aku, Bapak disana yang kuat ya pak” . Mengingat sebulan sebelum kejadian itu aku dan bapak berangkat membeli tas di PGC dengan berkendaraan motor kami diguyur hujan yang lebat. Kami sama-sama tidak menggunakan pelindung jaket hujan. Saat itu aku langsung terbatuk2, flu, dan radang tenggorokan, padahal sudah menjelang uas. Sedangkan bapak samasekali tidak sakit atau mungkin sebenarnya bapak merasa sakit tapi tidak mengeluh seperti aku. Saat itu bapak sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatanku. Di STAN berlaku aturan nilai minimum tiap matakuliah minimal D. bapak selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, bapak tidak mau aku jatuh untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya gagal masuk STIS yang sangat mengecewakan. Saat mendengar aku sakit sampai seminggu di kos hanya terbaring di atas kasur, bapak langsung menjenguk sambil membawa susu beruang dan biscuit malk*** yang selalu dibelikan setiap aku kembali ke kos. Itu sangat membuat hatiku berbunga.
Tapi disaat bapak berbaring menahan kesakitan yang luar biasa di rumah sakit, betapa bodohnya aku justru terdiam membisu di kamar kos. Harusnya aku bisa mengumpulkan tenaga-tenagaku demi bapak. Sebagaimana bapak sepulang kerja tanpa memikirkan rasa lelahnya berangkat ke kos ku dengan ibu hanya untuk menjenguk anaknya yang tidak tahu diri ini.
Esok paginya aku berangkat mengaji alquran. Setelah itu aku langsung bergegas dari kos. Tiba-tiba hp ku bordering ada pangilan dari mama.
“Diani, kamu udah berangakat?” kali ini mama tidak menutupi tangisanya, pertanda mama sangat membutuhkan keberadaanku disana.
“ini ma bentar lagi jalan”
“cepetan diani, cepetan kesini”
“iya mama, mama yang tenang ya, banyak2 doa terus. Insya Allah Bapak sembuh ma” aku berusaha menenangkan mama.
“ya pokoknya kamu cepetan kesininya”
“iya ma.. ini aku mau berangkat”
Setelah telpon ditutup, kepalaku tiba-tiba seperti melayang, aku menghiraukan sarapan. Aku memikirkan ucapan mama yang menangis terus-terusan.
Aku langsung menelpon Diana “Diana kayaknya kamu juga harus ke rumah sakit sekarang”.
“Haaaaaaa… Bapak kenapa bapak kenapa??” Diana menangis menjerit ketakutan. Aku pun jadi ikut menangis,,
“istighfar Dianaaaaa,,, ga boleh gitu Diana, kita harus husnudzonbillah, doanya org2 iman itu mustajab, insya Allah bapak sembuh Diana” aku berkata sambil setengah berteriak memberikan penegasan pada Diana agar tidak berpikiran yang negative.
Tetap saja Diana menjerit dan menangis. Akhirnya aku meminta Tari, teman kos Diana sekaligus sahabatku yang mengangkat teleponya.
“Tari amalsholeh tenangin Diana. Kamu ada kuliah ga? Klo ga ada amalsholeh temenin Diana ke Rumah sakit, bisa ga?
“aku ada praktikum, tapi gpp nanti aku temenin Diana. Diana dari semalem nangis terus”
“jaza killahu khoiro Tari”
“Amiin”
Aku menutup teleponya dan segera bergegas berangkat ke rumah sakit dengan badan yang lemas sekali. Tapi aku harus kuat dan mengumpulkan tenaga-tenagaku demi Bapak.
Untungnya salah satu teman kos ku mau memberikan “tebengan” sampai Veteran. Sampai di Veteran sambil menunggu bis Agramas aku ditelpon mama lagi
“Diani kamu udah sampai mana sih? Kok lama banget” . mama menelpon lagi, suara tangisanya sangat jelas. Saat itu aku ingin menangis seperti mama, tapi rasanya tidak etis menangis didepan banyak orang yang tak mengenal ku.
“aku sekarang lagi nunggu bis di Veteran ma”
“haduuhhh ko baru nyampe Veteraran si Diani” suara mama seperti terdengar orang yang sangat cemas dan takut sembari menangis yang menjadi-jadi.
“iya tadi macet ma. Mama yang tenang ya ma. Banyak2 doa insya Allah bapak sembuh” ” aku hanya bisa berkata seperti itu untuk menenangkan hatinya.
“iya, yaudah kamu cepetan ya diani” Telponya langsung dimatikan.
Bis agramas tidak juga kunjung tiba. Aku kembali menelpon mama untuk berbicara dengan tetangga yang menemani mama.
“Hallo Ibu?”
“iya Diani”
“ibu tolong tenangin mama dulu ya.. aku masih di Veteran. Bapak sekarang kondisinya gimana bu?”
“bapak gapapa kok, Diani juga yang tenang ya, hati-hati dijalan”
“iya bu, makasih banyak bu”
Sesampai di pasar rebo aku bernegosasi dengan tukang ojeg
“pak dari sini ke rmh sakit polri kramjati berapa?”
“35rb”
“ga 20rb pak?”
“30rb deh”
“yaudah 30rb tapi yang cepet ya pak, ngebut jg gpp”
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya aku melafadzkan doa dan dzikir agar bapak sembuh. Tapi kira-kira 10menit sebelum sampai di depan gerbang RS.polri kramatjati ada beberapa tulisan yang membuat hatiku jadi semakin takut dan cemas “PULANG” dan “KEMBALI”. Tapi hati kecilku terus mendorong pikiranku agar memberikan mindset yang positif.insya Allah bapak sembuh. Air mataku kembali membasahi pipiku.
Sampai di depan RS.polri kramatjati aku langsung membayar ongkos ojeg. Dan begegas menuju ruang IGD sambil membaca tulisan petunjuk-petunjuk yang sedikit membuatku bingung. Tak lama kemudian aku sampai.
Disana aku lihat ada mama yang sedang menangis meraung-raung. Ketika aku sampai aku langsung dipeluknya.
“Diani bapane …” (menggunakan bahasa jawa. red “diani bapaknya”) sambil menunjuk kearah jenazah yang sudah diselumuti selimut cokelat muda milik rumah sakit dan satu lagi selimut itu aku kenal, itu selimut hijau milik mama. Seketika sekujur tubuhku sangat lemas, sangat lemas dan hampir saja aku robohkan badanku. “ Ya Allah apakah ini mimpi? Aku harap ini hanya sebuah mimpi, Ya Allah aku harap dibalik dua selimut itu bukan bapakku, Ya Allah aku baru saja tadi pagi menolong agamamu kenapa Engkau tidak menolong Bapakku?”
Lantas airmataku kembali membasahi pipiku. Aku ingin menangis menjerit seperti mama dan merobohkan badanku di depan bapak yang sudah menjadi jenazah, tapi mama butuh pelukanku. Aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenagaku lagi demi Mama.
“sabar ma, sabar…”
(Insya Allah nanti ada cerita kelanjutanya lagi)















